Beranda > Sastra > Sebait Puisi Dari Seorang Sahabat….

Sebait Puisi Dari Seorang Sahabat….

MANIFESTO ALIRAN BATANG BUNGO:
SUNGAI DENGAN PENAMBANG
Mulia Jaya

Penambang lekuh…berminyak peluh…di sungai keruh
Mesin mendulang emas di barisan punggung aliran batang bungo

“ Kau penambang”!! (sergah sungai)

“ Bukan, aku bukan penambang seperti kau kira“ (elak penambang)

“ Kulitmu terbakar matahari
legam bercampur debu mesin
tersisa hanya naluri mengeruk
jejak kaki mu masih terasa….kaulah penambang itu !!!” (sungai marah)

“ Percayalah, aku pelindung lestari
aku penguasa negeri selampit delapan
senandung karenok akan menjernihkan
keruh, kumuh yang kau rasakan segera lepas”
(bujuk penambang tautkan harapan)

“ Ha….ha…ha…ha…ha…ha….
kami tidak percaya lagi …..
kau penambang emas liar
tancap ujung belati dipunggung ku
tinggalkan perih dibentang waktu “ (sungai tak percaya)

Wajah penambang memerah menahan malu, tapi wajah penguasa tersenyum meringis menebar kekecewaan

“ Aku mohon percayalah…percayalah
aturan melindungi mu memang sudah di buat
berilah waktu sedikit…bersabarlah sungai…
maafkan diantara saudara kami ada yang ingkar
menambang liar…terpesona kilauan sebagai jembatan kesejahteraan
ikhlaskan saja demi pembangunan “ (penambang memelas)

“ Kami muak dibuai janji …
kau bahagia…kami derita
kau untung…kami merana
kau hidup…kami mati
takkan terulang lagi” (sungai muak dibuai janji)

“ Janji ada karena hutang budi
kau sungai hidupi kami hingga begini
sekelompok orang menggaruk punggungmu
dulu, sekarang mereka masih belum paham lestari sungai kehidupan
tapi…tidak akan kubiarkan mereka merusak masa depanmu “
(penambang meyakinkan sungai)

Menyusuri sungai bersama waktu…namun tak cukup menyadarkan penambang emas liar untuk memahami, makna pelestarian lingkungan daerah aliran sungai batang bungo

Penambang di ayun gelisah…bayangan kemilau emas
tak peduli kerusakan yang ditinggalkan…mendengus deru mesin
penambang enggan mendengar, enggan melihat dan enggan bertanya
akan jadi apa sungai batang bungo… jikalau dikeruk terus menerus?
keyakinan penambang tidak seragam dengan pelestari lingkungan
bagai perusak dengan pelestari
bagai pengamuk dengan penyabar

maka renungkanlah:

bila pelestari melindungi fungsi sungai sebagai harapan kehidupan
maka penambang mengalih fungsi sungai menjadi kapital
pelestari terbingkai nurani
penambang dibalut keji
pelestari bicara moral
penambang bicara akumulasi modal
pelestari dan penambang berebut daerah kekuasaan
pelestari dan penambang berbeda orientasi
penambang merusak sungai
pelestari berdayakan sungai

seandainya semua pihak memahami
pemberdayaan daerah aliran sungai batang bungo
tergerai sudah benih harapan keberlanjutan sungai
tanpa disumpah perintah dilaksanakan
tanpa pergesekan kepentingan murka alam mampu diredam

“ percayalah padaku wahai sungai!
akan ku ramaikan punggungmu dengan rerimbunan pohon
isi perutmu geliatkan ranah sosial daerah kami
ku sertakan dirimu dalam gemerlap kota bungo
kaulah pertautan kemiskinan dan kekayaan
pengangguran berkurang selama ada di pinggir bibir sungaimu”
(bujuk penambang lunakkan hati sungai)

Sungai batang bungo marah menyimpan dendam lama tatapannya membara:

“ ha….ha….ha…..bedebah…..!!!! lidahmu bercabang dua
seperti ular merayap dalam pelukan aliran keruh
sumpahmu melindungiku….untuk diwarisi kelak
kemaslahatan kau dengungkan melalui corong pemerintah daerah
tapi mengapa bedebah sepertimu semakin ramai di punggungku
ku kutuk negerimu menjadi kampung tandus…kampung duka
kampung peluruh martabat bangsaaaaaaaa”

“ kami akan tenggelamkan anak cucumu
dalam pagutan lemas, deras menderu
tebarkan racun pembunuh hingga menganga luka
biarkanlah perutku kerontang pucat…
agar tak ada lagi yang bisa disayat”

“ bila kau membela keberlangsungan hidup kami
maka kami akan membela keberlangsungan hidup kamu
kau tidak bisa palingkan muka kepada pemilik modal
kau lupa kamilah sejatinya pemilik modal sosial keberlangsungan hidupmu
kau tidak bisa lari dari nganga luka diatas punggung kami…
kau akan mati dalam pelukan tubuh ibu kami…
ha….ha….ha…ha…ha…

kutukan sungai batang bungo tak membuat mesin menjadi mati
tak membuat sungai menjadi lestari…penambang berseri
kiranya penguasa negeri mendapat upeti….
pantas pula silat lidah menjadi budaya baru
menyambangi muka elit birokrasi,
muka pengusaha dan muka tokoh masyarakat

Pada saat rezim berganti kutitipkan lambaian tangan salam hangat dari aliran keruh batang bungo

DI KAMPUNG INDUSTRI
Mulia Jaya

Kan ku bangun sebuah gubuk
Beratap daun sirih
Tiangnya ranting mati
Dindingnya anyaman bambu
Lantainya beralas tanah

Kukumpulkan kertas bekas
Untuk menulis ulang
Gagasan tentang realita dilematis
Air muka yang berkerut
Hati merintih menehan lapar
Sebab tak mampu membeli sepotong roti
Di daerah industri
Hanya ubi yang dapat kunikmati hari demi hari

Aku pergi kehutan
Namun terkungkung polusi
Sungai tak layak lagi konsumsi
Dimana mencari ikan, mencuci sehelai baju
Karna disana ada kelompok penambang berdasi
Mengambil nikmat tinggalkan keruh, kumuh, rusuh dan musuh

Gairah Kita
Mulia Jaya

Gairah tercurah disela peluh
Menetes guratan kebahagiaan
Membumbung kenikmatan
Asa mengajak ke peraduan

Lentik jemari lingkar melingkar
Kekar tangan mencoba memagut
Hembuskan suara desah mendesah
Semburkan air asal manusia

Terkulai lemas diawal mimpi
Berharap nyata dapat tertunda
Malam ini kita disini saja
Tak usah pergi kemana-mana

Dunia ini tak hanya kita…

Hujan
Mulia Jaya

Mengapa hujan tiada turun lagi
Sedangkan dinginnya masih terasa
Mengapa galau dihati tiada hendak sirna
Sedangkan aku tiada pula menanti

Hamparkan ruang hati untuk sebuah pengertian
Penantian apa gerangan yang dirisaukan
Sembunyikanlah guratan kecemasan
Tak baik kiranya untuk ditampakkan

Seandainya ilalang dapat menjadi alas
Biarkan hujan membasahinya
Kalaulah sayatan luka dihati tak terbalas
Tidak akan kubiarkan waktu menghakiminya

Manusia Sapi
Mulia Jaya

Moral camping karena amar tak ikuti alur
Lenyap alami sisi manusia terkuak nafsu anggara
Wajah kemayu tebar pesona mengaburkan cita luhur
Manalah mungkin wibawa melekat dipuja akar rumput

Jujur tergagap letih sungguh mencari ruang untuk hidup
Candrasa kezaliman merusak tatanan ideal dengan gamblang
Prilaku menipu menjadi gandrung tak berganjak
Menggantung harapan di meja hukum dibayangi keraguan

Kampung ini seperti kandang sapi penuh sesak aroma taiii
Becek jalan masuk licin digenangi kencing binatang
Apakah sapi kencing dikandangnya? Bisa saja manusia kencing dikandang sapi
Tapi sapi tak pernah kencing di WC umum sebagaimana tempat kencing manusia

Sapi dan manusia tidak bisa disamakan secara fisiologis dan genealogis
Tapi sifatnya kurang lebih sama

Pedang pemburu
Mulia Jaya

Aku berdiri disini tak mampu melangkah
Menatap penuh bimbang meringis rambati tulang
Mengurai benang kusut tak berujung
Jalan semakin tak pasti dan buram

Ada suara merdu penuh harapan
Menahan tinggal lebih lama dan terbuai
Ada suara berteriak lantang menggelegar
Mengajak untuk meradang membalikkan kondisi

Hari demi hari menunggu keajaiban
Pedang keadilan terus mengibas dan memburu
Mengancam keberadaanku disini
Guratan gundah menoreh di hati

Tak ada ruang untuk sembunyi
Hanya ada ruang pengingkaran
Pendam kebenaran dengan senyuman
Kehancuran mengikis habis menyeruak ke alam nyata

Ooooooh…para pendiri…bernyalilah kau
Jangan menjadi pengecut….gelombang sudah di depan mata
Jangan diam bergeraklah…jangan membual
Jangan menjadi orang-orang bermulut besar

Oooooh pengambil kebijakan…tanggalkan egoisme
Jangan pasrah memelas budi menggeliatlah
Mendesah, mendesir nanyian intelektual
Nyatakan….nyatakan ide menepis pedang pemburu

Ooooh penggiat ilmu….bergegaslah di batas cakrawala
Diantara dua pilihan bertahan atau enyah lah kau !!!!
Terombang ambing dalam tatapan pemburu
Membubung cita-cita melanting angan-angan

Penggiat ilmu adalah pendidik, peneliti, dan pengabdi
Penggiat ilmu tak mendidik, tak meneliti, tak mengabdi silahkan pergi
Penggiat ilmu adalah pembangun dan pengembang ilmu pengetahuan
Bukan mengingat dan menceritakan kembali isi buku lalu ujian

Setiap ucapan, gurauan mesti menjadi ilmu
Setiap detik berlalu harus menjadi pembelajaran
Setiap tindakan yang berlaku mesti menjadi tauladan
Setiap perkembangan mesti disikapi dengan kebijaksanaan

Ooooh negeri bunga…negeri seribu keharuman
Negeri berkumpulnya orang-orang pemuja jabatan
Pedang pemburu masih terus menghunus
Pangkat dan jabatan akan dipertanggung jawabkan

Sedikit bekerja banyak bicara
Bicara tentang pembangunan…tentang lingkungan
Bicara tentang kemiskinan….tentang kesejahteraan
Bicara…bicara hanya..bicara…..ya…mereka hanya bicara….

Pendiri melantur…pengambil kebijakan melantur
Penggiat ilmu melantur…pembelajar ilmu melantur
Tak sadar pedang pemburu telah terhunus
Bila saatnya tiba semuanya akan menjadi abu….

Pendatang versus pribumi
Mulia Jaya

Puisi belati tajamnya di dua sisi
Tikam kiri tikam kanan amukkan ke wajah-wajah bebal
Hingga mati berkali-kali bajingan kau penghianat aspirasi
Yang bersembunyi di gedung rakyat..bedebah melata apa pula kau ini
Dari golongan iblis lembah mana kau berasal

Jagat menyumpah….penjagal menjabat
Kursi direbut dengan darah….mati berlinang air mata
Jajal kekuatan percikan amarah…busuk menjalar
Tangan terkepal membunuh kawan seiring

Duduk di kursi membungkam muslihat
Balikkan kepala menghitung rupiah
Putera daerah peguasa daerah pendatang hanya menonton saja
Tak usah ikut campur urusan pribumi

Demokrasi untuk pribumi pendatang mengetam diskriminan
Apakah pendatang yang merusak ataukah pribumi yang bersilat lidah
Inikah cermin daerah maju?…ataukah cerminan daerah terkebelakang
Siapakah yang lebih peduli daerah? Pendatang ataukah pribumi?

SAHABAT
Mulia Jaya

Merona pagi ini saat menatap wajahmu
Pelangi tak muncul setelah hujan reda
Kau julurkan selendang merah dari langit
Sebagai penuntun jalan untuk diriku

Kau belajar dariku untuk membawa kemudahan
Kemudahan yang telah kau ciptakan untuk diriku
Kau bantu aku untuk tetap tegar
Menjalani hidup dalam gengaman tanganmu

Sahabat….
Kita mungkin tak bisa hidup bersama
Namun kita dapat hidup berdampingan
Saling memberikan pencerahan
Pencerahan yang mencerdaskan

Sahabat…….
Kerajaan yang kau miliki
Membuatku kagum atas dirimu
Perhatianmu tercurah tidak hanya padaku
Namun aku merasakan kepingan hatimu masih tersisa buatku

Sahabat…..
Kau mempunyai teman-teman yang menyayangimu
Mengasihi seputih hatinya……..
Tetapi……strata sosial kita berbeda
Membuat aku mengasihimu secara berbeda

Mungkin aku akan terus meminta padamu
Membantuku setiap ada kesulitan
Kesusahan yang ku alami
Cermin kelemahan ku terhadap kondisi

Sahabat…..
Kita diciptakan untuk berbeda
Namun kita dituntut untuk saling menguatkan
Sehingga terbangun sebuah kebersamaan
Kebersamaan indah tercipta dari sebuah persahabatan….

Bidadari tirai pelangi
Mulia Jaya

Bidadari tirai pelangi
Wajah kemayu bersulam emas
Dibalut kain ukiran kasih
Rambut terurai mahkota dewi

Turun ke bumi mencari cinta
Tepian telaga candra purnama
Lentik jemari menepuk air
Sungging senyum mata berbinar

Aroma tubuh dibawa angin
Menebar keharuman berganti
Daun ranting patah jadi saksi
Kebahagiaan abadi bersamamu

Kulambaikan tangan untuk menyapa
Tak sejengkalpun langkah beranjak
Malam yang dingin merambati tulang
Dalam keraguan kagum pesonamu

Tiba-tiba mata bertatapan
Jantungku berdegup kencang
Darah telapak kaki berhenti
Tak seuntai katapun terucap

Melayang diatas air
Menghampiriku yang diam membisu
Kau beri sekuntum bunga angrek putih
Tanda persahabatan dua dunia

Kategori:Sastra
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: